Industri fashion dan sneaker di Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya minat terhadap produk streetwear, limited edition sneakers, hingga brand lokal premium justru membuka celah besar bagi maraknya pemalsuan produk (counterfeit).
Memasuki tahun 2026, tren pemalsuan tidak lagi sekadar “barang KW biasa”, tetapi sudah berkembang menjadi produk tiruan yang semakin sulit dibedakan dari yang asli. Hal ini menjadi ancaman serius bagi brand, distributor, hingga konsumen.

Permintaan tinggi terhadap produk fashion, terutama sneaker hype dan brand lokal yang sedang naik daun, membuat pasar semakin rentan terhadap pemalsuan.
Beberapa faktor utama yang mendorong tren ini:
Di tahun 2026, banyak produk tiruan yang sudah memiliki:
Artinya, pemalsuan sudah masuk ke level “high-grade counterfeit”, bukan lagi sekadar KW kasar.
Konsumen saat ini sudah lebih aware terhadap keaslian produk, terutama di kategori sneaker dan fashion premium.
Namun masalahnya:
Di sinilah muncul tren baru:
👉 Konsumen mulai mencari produk yang bisa diverifikasi secara langsung

Pemalsuan bukan hanya soal kehilangan penjualan, tapi juga menyangkut kerusakan brand value.
Beberapa dampak utama:
Saat produk palsu beredar luas, konsumen akan mulai ragu terhadap keaslian produk even dari channel resmi.
Produk palsu dengan kualitas buruk bisa dianggap sebagai produk asli oleh konsumen yang tidak tahu.
Brand tidak lagi bisa mengontrol di mana produknya dijual dan bagaimana pengalaman pengguna.
Eksklusivitas hilang → harga dan positioning ikut turun.
Di tahun 2026, brand fashion dan sneaker mulai menyadari bahwa:
Melindungi produk = melindungi bisnis
Brand tidak bisa lagi hanya mengandalkan:
Karena semua itu bisa ditiru.
Muncul tren baru di industri:
👉 Penggunaan sistem verifikasi keaslian berbasis teknologi
Seperti:
Tujuannya bukan hanya untuk keamanan, tapi juga untuk:

Teknologi menjadi senjata utama dalam menghadapi tren counterfeit modern.
Beberapa pendekatan yang mulai banyak digunakan:
Setiap produk memiliki identitas unik yang bisa diverifikasi oleh konsumen.
Brand bisa melacak distribusi produk dari produksi hingga ke tangan konsumen.
Konsumen bisa scan dan langsung tahu:
Ini bukan hanya security, tapi juga bagian dari customer experience.
Jika brand tidak segera beradaptasi, risiko yang akan terjadi:
Sebaliknya, brand yang mulai mengadopsi sistem perlindungan akan:
Sebagai Brand Protection Partner, Shieldtag hadir bukan hanya sebagai “stiker keamanan”, tetapi sebagai sistem perlindungan produk yang terintegrasi.
Dengan pendekatan seperti:
Shieldtag membantu brand untuk:
Lebih dari itu, Shieldtag juga membantu brand untuk naik level dari sekadar jual produk → menjadi brand yang terpercaya dan siap berkembang
Tahun 2026 menjadi titik penting bagi industri fashion dan sneaker di Indonesia. Pemalsuan tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah kecil, melainkan ancaman nyata terhadap pertumbuhan brand.
Brand yang ingin bertahan dan berkembang harus mulai berpikir:
“Bagaimana cara memastikan produk saya tetap dipercaya?”
Karena pada akhirnya, di pasar yang semakin kompetitif:
12 tampilan
0 komentar
Lihat Semua